30 Oktober 2012

DECEMBER 26TH (Chapter 7/Part 1)


CHAPTER 7
-The Black-

Begitu panas namun juga dingin. Hawa dingin bersaing dengan panasnya sebuah rasa yang dirasakan sekarang. Perbedaan yang begitu kontras antara luar dan dari dalam badan ini. Tenggorokan terasa kering, mata yang tiada henti-hentinya mengeluarkan cairan beningnya. Bulir-bulir keringat yang merupakan hasil ekskresi kulit terus muncul dan mengalir dari area pelipis. Tangan dingin yang mencengkram area di sekitarnya demi menahan rasa sakit. Ingin rasanya berteriak namun tidak bisa. Debaran jantung yang begitu hebat, perkataan-perkataan yang tak sanggup untuk dikeluarkan––bagaikan leher yang tercekik. Bagaikan suatu roh yang masuk dalam tubuh namun sebenarnya tidak sama sekali. Derita inilah yang sekarang dirasakan oleh gadis mungil yang sedang terbaring di kasur, Aria.
Perlahan-lahan dirinya membuka mata, rintihan suaranya sedikit demi sedikit terdengar jelas. Aku mencoba menenangkan dengan menggenggam tangan mungilnya. Pandangan awalnya yang tertuju ke langit-langit kamar, berpindah kepadaku. Ia menatapku dan mengeluh, “Rasanya panas, sangat panas”. Deritanya inilah kemungkinan besar efek dari ramuan pemberian Azura. Ramuan itu kucampurkan pada minuman hangat sebelum diberikan kepada Aria. Aku sejenak teringat akan perkataan wanita itu, “Ramuan ini sangat cepat reaksinya, namun mungkin awalnya kau bisa melihat sesuatu yang tidak enak.”
Rupanya memang benar. Aria begitu gelisah, menderita menahan rasa sakit yang dirasakan badannya. Nafasnya yang sediki terputus, dengan warna merah muda menghiasi kedua pipinya. Genggamanku perlahan mengendur, memberikan ruang bagi tangannya agar dapat bergerak bebas. Ekspresiku tetap datar memandangnya walau dalam hati terus bertanya akan kemanjuran dari efek ramuan tersebut. Entah ramuan itu dapat dipercaya atau tidak, tapi aku terus bersabar melihat perkembangan kesehatan Aria. Kubersihkan dahinya menggunakan sapu tangan. Mencoba mengetahui kondisinya dengan menempelkan punggung tangan ini pada dahi, turun ke pipi hingga leher putihnya. Panasnya tidak seperti sebelumnya. Nafasnya yang mulanya sedikit terputus, perlahan-lahan dapat berhembus teratur. Syukurlah, kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya.
Kembali dipejamkan sepasang matanya yang terbuka. Kepalanya bergerak menghadapku yang duduk di sebelah kasurnya. Ia tak mengucapkan kata-kata lagi  setelah mengeluh. Mungkinkah dia tidur kembali? Mungkin saja pikirku. Aku sedikit membenarkan posisi tidurnya serta selimut yang semula berantakan akibat kegelisahan darinya. Akan tetapi, muncul sebuah niat dariku––entahlah ini niat buruk atau tidak namun aku hanya sekedar ingin tahu kondisi kakinya setelah digigit serigala hitam itu. Selimut yang menutupnya perlahan kubuka, celana panjang yang membungkus kaki sedikit kutarik ke atas. “Untunglah bajunya sudah diganti Azura sebelum ia pergi meninggalkan kami”.
Bekas taring yang menancap betis kanannya terlihat jelas. Aku hanya dapat berdecih kesal. Seandainya saat itu aku tak melepas genggamannya, mungkin dia tidak akan mengalami ini. Dirinya selalu saja terluka jika di sampingku. Aku tak dapat melindunginya––mungkin, belum bisa.
****
“Apa? Bibi tidak pulang hari ini?”
“Ya, begitulah. Bibi ada urusan dengan teman bibi. Jadi, bibi terpaksa menginap di rumahnya selama satu hari. Jaga rumah baik-baik. Jangan lupa untuk selalu mengunci pintu rapat-rapat. Jika ada tamu yang tidak dikenal, lebih baik jangan dibuka karena bibi tidak ada di rumah. Jangan lupa membuat makan malam untukmu dan Aria. Jaga kebersihan rumah––dan yang terakhir..”
“Terakhir?”
“Sebelum menikah, jangan mengambil kesempatan untuk menodai Aria selagi bibi tidak ada.”
Telepon pun terputus. Mendengar perkataan bibi barusan, membuatku tak dapat berkomentar apa-apa. Aku tetap diam dan menaruh telepon itu pada tempatnya. Bukannya aku tidak peduli dengan perkataan bibi––hanya saja, aku bisa menjaga diriku dan aku tidak akan melakukan hal-hal yang sangat mempermalukan diriku sebagai seorang lelaki.
Dentangan jam telah menandakan pukul delapan malam. Hawa sejuk yang berasal dari luar masuk menyelimuti suasana rumah. Sedari tadi Aria tidak beranjak meninggalkan kamarnya––yang sebenarnya merupakan kamar bibi Rosetta. Aku tetap menunggunya di meja makan. Makanan hangat yang sebelumnya telah kusiapkan untuk berdua perlahan menjadi dingin. Suasana begitu sepi, hanya terdengar bunyi dentangan jam dinding. Tiada bibi Rosetta membuat suasana rumah seakan mati apalagi dengan hawa dingin yang begitu mendukung. Aku bertopang sambil memperhatikan putaran jarum panjang yang menunjukkan menit. Sudah menit yang kelima, tapi tetap saja tidak ada bunyi pintu terbuka dari tempat gadis mungil itu berada. Apakah dirinya masih tertidur? Entahlah. Kugaruk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal. Berdiri dari kursi yang telah kududuki, dan pergi beranjak meninggalkan meja makan. Tujuanku sekarang adalah ke kamarnya sekaligus ingin mengetahui perkembangan kesehatannya. Apakah dia masih sakit? Semoga saja tidak pikirku. Kuketuk dinding pintu kamarnya beberapa kali, namun tak ada respon yang kudapat dari dirinya. Perlahan kudorong gagang pintunya, mendapati sosok Aria terduduk di tempat tidur––membelakangi pintu yang menjadi tempatku berdiri sekarang. Ia tetap tidak merespon kedatanganku––sama sekali tidak menoleh ke arah belakang. Rambut karamelnya tergerai berantakan dan sedikit menampakkan leher putihnya. Tangannya tidak bergerak namun terus memeluk sebuah bantal dengan erat. Aku berjalan mendekatinya, menepuk bahunya, dan alhasil dia menoleh kepadaku.
“Kau tidak mau makan menemaniku?”
Ia hanya menatapku namun tidak mau membalas pertanyaan lawan bicaranya barusan. Ekspresinya tidak menunjukkan dirinya sedang sedih atau gelisah. Ia tetap seperti biasa, kecuali rona merah yang selalu ia tampakkan tidak terlihat. Ia tenang, masih dalam posisi terduduk dengan dirinya yang tetap memeluk bantal. Ia terus menatapku yang berdiri di sampingnya tanpa berkomentar.
“Mukamu masih pucat. Apa kau tidak mau berbicara padaku demi menahan rasa sakitmu, bukankah begitu?”
Tidak ada respon darinya.
 “Aria. Aku tak mau kau menatapku dengan tatapan seperti itu. Kau seakan-akan sedang mengetesku. Kau biasanya menatap orang-orang dengan lembut, tidak seperti sekarang ini. Jika kau ingin sesuatu, katakan itu. Aku pasti akan membantumu.”
Kembali tidak ada respon darinya.
“Aria! Tolong balas perkataan lawan bicaramu!” sedikit berteriak agar dapat menerima respon––tapi tetap tidak ada respon darinya sedikit pun.
“Aria! Dengarkan! Aku hanya ingin bicara padamu!”
Kesal. Aku pun meraih kedua tangannya, namun pelukan pada bantal itu semakin dieratkannya. Ia tak mau melepasnya. Aku terus memanggil namanya berulang kali, tapi tetap saja ia tidak mau membalas panggilanku. Tatapannya yang semula bertemu pandang dengan tatapanku, kemudian sengaja dipejamkannya. Aku mengkerut, terus berusaha untuk meraih kedua tangannya agar ia mau menjawab. Badanku yang sebelumnya berdiri tegak terpaksa sedikit membungkuk hingga refleks duduk di atas tempat tidurnya. Ia hanya dapat mengeluarkan rintihan kecil saat kedua tangannya sedikit kutarik paksa––yang juga membuatnya tersandar pada tembok. Aku senang bisa melepaskan kedua tangan yang telah memeluk erat bantal itu, tapi   matanya tetap terpejam dengan kepala menunduk yang membuat poni rambutnya sedikit menyembunyikan wajah cantiknya. Mau tidak mau, segera kupegang kedua pipinya, sedikit menarik wajahnya ke atas agar ia mau melihatku. Ia langsung memegang kedua tanganku untuk menarik dari pipinya. Akan tetapi, tetap saja tenaganya tak dapat menandingi tenagaku.
“Aku hanya ingin berbicara padamu baik-baik. Bukan untuk menyakitimu. Apa yang membuatmu seperti ini? Kau tidak mau membalas perkataanku––bahkan kau sengaja memejamkan matamu untuk tidak melihat lawan bicaramu.”
Kelopak matanya perlahan terbuka, menampakkan kembali zamrud indah yang sempat disembunyikannya. Tanpa sadar wajah kami begitu dekat, hanya memisahkan jarak beberapa senti dari hidung kami. Hembusan nafas kami saling bertemu seakan sedang beradu. Hangat hembusan nafas dari masing-masing sumber begitu menggelitik wajah. Mataku terus terfokus untuk melihat indah warna matanya. Damai dan sangat berbeda dengan warna hitam bola mataku. Ini seperti menghipnotisku.
“..Ron.”
“Ya?”
“Aku takut akan kejadian tadi. Kejadian dimana aku merasakan kedamaian pada awalnya, merasakan keindahan alam yang begitu tenang, berjalan sambil menghirup udara segar bersamamu, namun––tiba-tiba saja berubah menjadi suatu hal yang begitu kontras dibanding sebelumnya. Tragedi yang mengerikan. Suasana sejuk yang seakan tak begitu bersahabat. Hujan deras yang kemudian menyelimuti indahnya alam hutan pinus itu. Semuanya––membuatku takut.”
“Lalu, kenapa kau tadi menghindariku di saat aku ingin berbicara denganmu?”
Aria terdiam sejenak. Ia seperti sedang memikirkan serangkaian kata yang akan dilontarkan dari mulutnya. Posisi kami tetap tidak berubah––masih dalam jarak yang begitu dekat. Sedari tadi tangan ini tetap saja tidak terlepas memegang kedua pipi lembutnya.
“Awalnya aku takut memandangmu. Tatapanmu begitu tajam, beda dengan laki-laki lain yang pernah kutemui. Warna hitam dari rambut dan matamu sedikit mengingatkanku pada serigala tadi. Sangat persis––tapi, bukan berarti aku membencimu! Aku tidak membencimu hanya karena warna yang kau miliki. Memang aku sedikit trauma dengan serigala yang tadi mengejar bahkan menggigitku. Tatapannya tajam, namun membunuh. Akan tetapi, setelah itu aku sadar bahwa kau berbeda dengannya. Tatapan tajammu justru menghangatkanku. Aku sangat menyukainya.”
“Aku dapat melihatnya dari tatapanmu, tatapan kekhawatiran yang dapat menghangatkan hati.”
Mendadak terlintas dalam otakku perkataan Azura sebelumnya. Jadi inikah yang disukai dari mereka? Sebuah “kehangatan” ––dariku? Diriku seakan terjepit oleh sepasang wanita yang selalu menghantui pikiran ini. Aku heran dengan apa yang mereka sukai dari diriku.
Kutarik kembali kedua tanganku dari pipinya. Sedikit memberikan jarak di antara kami berdua untuk bisa bernafas dengan lega. Akhirnya aku dapat melihat kembali rona merah yang menjalar di pipi Aria. Aria tampak keringatan––mungkin akibat dari diriku yang sudah mempersempit ruangnya. Kubenarkan poni rambutnya, serta kubersihkan bulir-bulir keringat yang telah membasahi wajahnya.
“Aku juga tidak membencimu. Terima kasih, akhirnya kau mau merespon perkataanku––dan maaf jika aku berlaku kasar padamu,” kataku datar.
Kami hanya saling berpandangan. Hening. Tak ada satupun gerakan dari tubuh kami setelah itu. Tak lama kemudian, sebuah deringan telpon genggam menghancurkan keheningan ini. Kuraih benda itu dari saku celana,  membuka kuncinya dan melihat pesan dari dalamnya.
Besok pagi maukah menemaniku sarapan di Red Rose Cafe? Aku harap kau bisa menemaniku. Aku akan menjemputmu jam 7 pagi. Thanks!
-Edward-
****

Kelopak matanya perlahan terbuka, menampakkan kembali zamrud indah yang sempat disembunyikannya. Mataku terus terfokus untuk melihat indah warna matanya. Damai dan sangat berbeda dengan warna hitam bola mataku. Ini seperti menghipnotisku.

29 Oktober 2012

DECEMBER 26TH (Chapter 6/Part 2)


Pikiranku seakan mati. Sedari  tadi hanya bisa terdiam dan berdiri kaku. Ketiga mahluk buas itu berjalan memutar dan semakin mendekat. Aria menyembunyikan wajahnya dalam pelukanku. Ia mengerang ketakutan. Tak ada cara lain selain kabur. Kuangkat tubuh Aria, menggendongnya tepat di depan dada. Aku berlari dengan diikuti ketiga serigala itu. Mereka begitu cepat dan menyeramkan. Tak hentinya keringat dingin keluar mengalir. Kutambah kecepatan lariku membuat Aria panik tanpa berkata-kata. Tangannya mencengkram pakaianku membuat kukunya tanpa sengaja menusuk dada. Sedikit keberuntungan yang kami dapat, kami pun bersembunyi di balik pohon pinus yang sangat besar. Kuatur nafas dan menurunkan Aria dari gendonganku. Aku tahu serigala itu pasti mengendus jejakku.
Hujan turun deras membasahi hutan. Dinginnya guyuran hujan seakan menusuk tulang. Walau sudah berlapis jaket, tetap saja Aria mengeratkan badannya. Aku mengintip dari balik pohon. Terlihat jelas dua serigala itu mengendus jejakku dan satunya sedang berjalan––mendekat ke arah kami. Aku terkejut. Ia berjalan ke arah kanan dimana pohon pinus ini berada. Kami merasa sangat waspada akan mereka. Aria berdiri di sebelah kiriku. Aku menggenggam tangannya agar ia tidak merasa takut. Tangannya bergetar dan dingin bagaikan es. Serigala itu semakin mendekat dan refleks kami bergeser ke arah kiri. Bergeser, bergeser dan terus bergeser. Hingga pada akhirnya Aria menahan lenganku. Apa yang kulihat setelah itu? Tepat salah satu serigala itu berdiri di belakangnya.
Panik. Kami kembali berlari menghindari. Kugenggam erat tangan gadis di sebelahku, namun genggaman tangan kami terlepas membuat dirinya terjatuh karena kondisi kakinya yang masih terluka. Ketika ingin menarik kembali dirinya, salah satu serigala itu lebih dulu menancapkan taring tepat pada betisnya. Ia menjerit, meronta, dan menangis, bahkan tangannya bergerak mengorek tanah. Ia ditarik oleh serigala itu. Aku berlari mengejar untuk menariknya, namun terhalang oleh kedua serigala lainnya. Dari jauh dapat terlihat dan terdengar jeritan Aria. Aku tak bisa berkonsentrasi. Kacau, semuanya kacau. Mataku tak berkedip seakan terhipnotis mata merah serigala-serigala itu. Apa yang ingin mereka lakukan setelah melihatku?
Salah satu dari serigala itu lompat dan pandangannya tertuju pada leherku. Aku tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini. Dia akan menerkam dan merobek leher ini. Kakiku seakan terkunci membuatku tak bisa lari dari tempat, begitu juga dengan mulutku seakan mati dan tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Dapat dirasakan debaran jantung ini. Mata tak bisa terkatup seperti mendapat sinyal bahwa aku harus fokus melihat serigala yang akan datang menerkam. Semuanya memacu adrenalin.
Entah berasal darimana, tiba-tiba saja sebuah pedang datang menancap hingga menembus leher bagian samping serigala yang berusaha menerkam. Darahnya merembes keluar dan baunya anyir menusuk hidung. Baju putih polos ternodai oleh darah––begitu juga dengan sebagian pipiku. Untuk kedua kalinya datang sebuah pedang menancap ke tubuh serigala satunya––namun tidak pada lehernya, melainkan menembus pada punggung. Mata ini dengan jelas menangkap adegan barusan. Terkejut mendengar kekehan tawa yang sangat kukenal. Begitu familiar sosok yang menyelamatkanku. Rambut hitam panjangnya tergerai menyentuh tanah, kulit putih pucat yang ternodai cairan darah. Ia duduk dengan posisi menimpa serigala yang dibunuhnya. Azura datang menyelamatkanku.
“Maaf atas keterlambatanku, pangeranku.”, katanya tersenyum––licik?
“Aku bukan pangeranmu.”, jawabku acuh. Dirobeknya tubuh serigala yang dijadikan sebagai alas duduknya. Ia berdiri, menyapukan sisa cairan kental berwarna merah di pedang dengan jemarinya. Tatapannya tajam menangkap tatapanku. Mata merahnya begitu mengerikan bagaikan gumpalan darah. Kulit pucatnya begitu kontras dengan warna rambut dan jubahnya.
“Aku tak suka bau serigala ini. Kau mau mencicipinya?”
“Kau gila? Aku manusia, bukan vampir.”
Azura diam tak berkomentar. Tubuhnya berbalik membelakangiku. Ditunjuknya arah depan dengan telunjuk kanannya, membuat pandanganku mengikuti arahannya. “Kau tidak ingin ke sana? Bukankah gadis itu ditangkap?”.
Astaga! Tanpa sadar aku telah melupakan Aria. Aku berlari cepat meninggalkan Azura yang masih diam bertahan di posisinya. Ia tetap tenang tanpa menyusul. Nafasku tak teratur––masih merasakan sedikit ketakutan akibat kejadian sebelumnya. Bagaimana dengan keadaan Aria sekarang? Apakah dia baik-baik saja? Sungguh kepanikan yang luar biasa hebatnya yang ada di dalam otak ini sekarang.
Langkahku terhenti, mendapati Aria yang terbaring tak jauh dariku berdiri. Tertangkap jelas robekan celana jeans miliknya membentuk beberapa lubang bekas gigitan seekor serigala. Kelopak mata yang tertutup menyembunyikan warna zamrud miliknya, mulut yang tetap memucat––sama seperti sebelumnya, dan dress pink yang ternodai oleh warna tanah. Aku terduduk, kuletakkan kepalanya di atas pahaku. Mencoba merasakan nafasnya dengan sedikit menghalangi kedua lubang hidungnya dengan jemariku, serta sedikit menekan pergelangan tangannya agar dapat merasakan denyut nadinya. “Syukurlah dia masih hidup––”
“Sebaiknya cepat bawa dia pergi dari tempat ini dan segera obati lukanya. Tempat ini tidak aman, aku dapat merasakan bahwa kemungkinan besar serigala lain akan datang untuk mencari jejak serigala-serigala yang sudah mati ini,” kata Azura memotong perkataanku.
Aku mengangguk, menuruti perintah Azura. Ekspresinya yang datar membuat kesan jauh lebih dingin dibandingkan saat membunuh kedua serigala sebelumnya. Kuangkat tubuh Aria tepat di depan dada, dengan diikuti oleh dirinya yang berjalan di belakang. Ia tidak mau mendahului, mungkin sekaligus berjaga agar dapat memastikan jika akan ada serigala lain yang datang. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut kami. Ini tidak seperti biasanya. Hari ini ia terlihat sedikit berbeda dengan Azura yang pernah kutemui pertama kali. Hanya terdengar bunyi pijakan sepatu dan patahan ranting-ranting yang terinjak. Tak lama hujan yang sebelumnya deras pun berhenti. Hawa dingin tetap saja membanjiri alam hutan ini. Dinginnya yang menusuk tulang seakan tidak pernah berhenti.
Sesampainya di rumah, kurebahkan tubuh Aria di atas kasur, menekan kedua pipi dan dahinya menggunakan punggung tangan kanan. Dapat terasa jelas kulitnya yang memanas. Rasa khawatir keluar setelah mengetahui dirinya dalam keadaan tidak sehat. Astaga, aku tak dapat mematuhi perkataan bibi untuk tidak bertindak ceroboh lagi, hanya kata-kata itu yang terlintas di pikiranku. Azura yang berdiri di sebelahku tetap diam dengan pandangannya yang juga tertuju kepada gadis mungil ini. Aku pun keluar dari kamar, berjalan menuju kotak peralatan obat untuk mencari kompres. Dimana aku sedang memegang kompres, di tempat itu jugalah Azura langsung menarik memelukku. Dilingkarkan kedua lengannya pada dada ini. Hal ini membuat diriku terkejut, sekaligus bingung dengan alasan apa dia ingin memeluk. Dapat terasa wajahnya yang tersandar pada punggung ini. Hembusan nafasnya yang hangat dan geraian rambut panjang yang begitu menggelitik. Ia memelukku erat dan jari jemarinya yang mencengkram membuat kuku panjangnya menusuk dadaku.
“Apa tujuanmu?”
“Pergerakanku hanya menuruti apa yang dikatakan hasratku. Biarkan aku seperti ini sejenak. Aku ingin bersandar pada kehangatan seorang laki-laki yang kupilih. Aku sangat menginginkannya.”
“Sangat aneh rasanya jika kau mengatakan kalau aku bisa memberimu kehangatan. Bajuku yang basah ini tak kan mampu––”
“Berhentilah untuk banyak bicara. Kau bukannya tidak mampu sama sekali. Kau bisa membuktikannya––seperti di saat hutan tadi.” Hening. Aku tak dapat membalas perkataannya. Hanya terdapat pertanyaan dalam pikiranku, apakah aku telah memberikan sebuah “kehangatan” yang dimaksudnya?
“Sudah kukatakan kalau aku akan terus mengikutimu kemana pun kau pergi. Bukankah dulu aku menyatakannya seperti itu? Di hawa yang dingin saja, kau dapat memberikan kehangatan––pada gadis mungil itu. Sebuah perhatian itulah yang merupakan kehangatan baginya darimu. Di saat kakinya yang terluka, dan dirinya yang terbaring di tanah. Aku dapat melihatnya dari tatapanmu, tatapan kekhawatiran yang dapat menghangatkan hati. Gadis itu curang, ya? Dia rakus mendapatkan apa saja darimu.”
Lingkaran tangan yang awalnya mengerat perlehan mengendur. Aku berbalik menghadapnya dengan tangan tetap memegang kompres. Dirogoh saku jubahnya dan dikeluarkan satu botol kecil berisi cairan bening yang entah apa itu gunanya. Diambilnya satu tanganku untuk memberikan botol kecil itu. “Ini sangat berguna untuk menurunkan panasnya. Bawalah, dan tuangkan pada minuman hangat miliknya. Aku sudah membuktikannya melalui diriku sendiri. Ramuan ini sangat cepat reaksinya, namun mungkin awalnya kau bisa melihat sesuatu yang tidak enak.”
Tangannya yang cepat bergerak menutupi sepasang mataku. Lagi-lagi dapat kurasakan sentuhan bibirnya menekan pipi kiriku lembut. Kegugupan ini membuat wajah merona. Refleks badan ini bergerak untuk sedikit mendorongnya serta membuka kedua mata yang semula tertutup untuk melihat apa yang terjadi setelah itu. Hanya saja tak ada lagi sosok dirinya yang berdiri setelah menciumku.
“Kemana perginya dia?”
****

06 November 2011

NEW SKETCH!!!



DECEMBER 26TH (Chapter 6/Part 1)


CHAPTER 6
-Lonely-

Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui jendela maupun celah ventilasi. Aria memutar cangkir tehnya di depanku. Suasana terasa tenang. Tidak ada satupun kalimat yang terlontar keluar dari mulut kami, kecuali Bibi Rosetta yang asyik dengan nyanyiannya dan kicauan para burung di luar rumah.
“ Ron, Aria, bibi pergi kerja dulu. Tolong jaga rumah dan hati-hati. Jangan melakukan tindakan ceroboh lagi.” kata bibi memperingatkan. Kuperhatikan dirinya pergi menuju pintu depan dan meninggalkan kami berdua. Aku terdiam––masih berkutat dengan tiga buah roti yang sedari tadi kumakan. Dapat kurasakan tatapan Aria tertuju padaku. Diam-diam aku juga memperhatikannya. Rona merah yang menghiasi pipi putihnya tertangkap jelas oleh penglihatanku.
“ Kau demam?” tanyaku singkat.
“ Ah, tidak! Aku tidak apa. Sungguh, jangan khawatir.”
Kami kembali terdiam. Tidak ada sepatah kata pun keluar setelah itu. Kuusap bibirku dengan jari jemariku untuk menghilangkan sisa makanan yang masih menempel. Dihirupnya aroma teh hangat buatanku, meminumnya, dan diletakkan kembali cangkir itu diatas meja. Sedikit rasa gerah kurasakan pada tubuhku dan sepertinya aku harus mandi sekarang.
Begitu kembali ke kamar, aku mandi berlama-lama di bawah pancuran air, dan itu membuat tubuhku rileks. Tapi, ketika mengeringkan badan dengan handuk, kudapati begitu banyak memar menghiasi tubuhku. Mungkin memar ini tidak sebanding dengan yang Aria peroleh. Kulit putih mulusnya tertanam oleh begitu banyak goresan kaca. Dengan kesal kupulkan kepalan tanganku ke tembok. Aku sangat menyesal tidak bisa menolongnya waktu itu. Aku menggeram dan kuremas rambutku yang masih basah. Kurasakan emosiku perlahan-lahan bergejolak. Rasanya sangat panas dan perih. Sedikit rintihan kecil keluar dari mulutku demi menahan rasa sakitnya. Kutekan dadaku kuat dan terasa dengan jelas debaran jantungku begitu hebat. “Apakah kekuatanku akan keluar?” pikirku dalam hati.
Tak butuh waktu lama, kubalut segera tubuhku dengan handuk. Aku menghela nafas sambil menyandarkan punggunggku sejenak di tembok kamar mandi. Aku keluar, dan mengaduk-aduk lemari untuk mengambil pakaian. Kukenakan kaus putih lengan panjang berlapis jaket hijau lumut dan celana jeans.
Terdengar suara ketukan di balik pintu. Kupandangi pintu itu dan membukanya––mendapati sosok Aria, si pelaku ketukan. Kugaruk sedikit kepala walau tak terasa gatal sambil memandangi wajah gugupnya. Ia terlihat manis dengan baju terusan soft pink berlengan panjang dan celana jeans hitam milik bibi. Tubuhnya kecil dan begitu kurus. Sedikit kumajukan langkah, menggerakkan tanganku keatas menuju rambutnya hingga turun ke bahu. Dan––
“ Maukah kau pergi bersamaku?” tanpa sadar pertanyaan konyol itulah yang terucap keluar dari mulut. Dalam hati kubertanya, sebaiknya aku harus pergi kemana dengannya?
****
Semilir angin begitu menggelitik. Hangatnya sinar mentari tak mampu menandingi dinginnya alam hutan pinus. Aku duduk bersandar pada pohon. Kuluruskan kedua kakiku dan menyusupkan kedua tanganku di kantung jaket. Aria berdiri tak jauh dari tempatku. Dieratkan pelukan tubuhnya yang berbalut sweater tebal. Ujung rambutnya tergerak akibat hembusan angin. Setiap  kali menghembuskan nafas, bibirnya yang memucat ikut bergetar. Aku pun berdiri melepaskan jaket yang kukenakan dan mendekatinya. Kulingkarkan lengan jaket itu di tubuhnya dan sedikit membungkuk untuk menyibakkan poni yang menutupi matanya. Kombinasi antara warna zamrud pada mata dan coklat karamel pada rambutnya begitu indah. Terkesan hidup, hangat, dan berwarna––sangat kontras denganku.
“ Warna bola matamu indah.”
Aku terduiam, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Masih dalam keadaan membungkuk dan pandanganku tetap lurus padanya. Kurasa ini hanyalah sebuah lelucon saja. Ia mencoba menghiburku dengan ejekannya. “ Aku suka warna rambut dan matamu. Hitam mengilat. Seperti sosok pemberani––”
“ Namun, begitu menyeramkan. Betul? Kau berusaha menghiburku dengan ejekanmu, kan?"
“ Tidak, kok. Aku benar-benar serius.”
Dia melihat padaku dengan pandangan yang tegas. Semburat merah perlahan menghiasi wajahnya. Ia merona. Kikuk ia menggengam ujung jaket dan membenarkan letaknya. Aku menegakkan tubuhku dan termundur. Kutatap langit biru cerah, burung gereja berterbangan mengelompok tanpa tentu arah. Mereka semua berkicau demi meramaikan suasana yang begitu kaku. Terpaan angin yang begitu sejuk menambah kesan indah hutan pinus sekarang. Sejuk dan sangat dingin. Aku begitu menyukainya.
Aku mulai mengangkat bicara dan mengajaknya jalan jauh lebih ke dalam. Ia mengikutiku dari belakang dengan sedikit terburu-buru. Pernah sekali ia tersandung oleh akar pohon yang timbul dari tanah. Alhasil, tubuhnya bertubrukan dengan punggungku. Kutahan keseimbanganku agar kami tak terjatuh mencium tanah. Sebelum mengucapkan maaf, kukatakan bahwa aku tidak apa padanya. Tersirat rasa cemas dari wajahnya––namun sebenarnya yang harus dicemaskan adalah dirinya. Pergelangan kaki kanannya tergores menyebabkan darah segar keluar mengalir. Sekarang ia yang mengatakan tidak apa padaku, tapi pada kenyataannya itu salah. Untungnya kami sekarang berada di pinggiran sungai. Aria duduk bersandar di pohon atas perintahku. Kukeluarkan sapu tangan biru tua dari saku celana, sedikit membasahinya dan mengusapkannya pada pergelangan kakinya. Ia merintih kesakitan dan berkata bahwa ini sangat perih. Tetap dalam keadaan tenang, kuikat sapu tangan itu pada pergelangan kakinya demi menghentikan pendarahannya. Kemudian, aku pun bertanya, “ Jika kau terluka seperti ini, siapa yang akan menolongmu?”
“ Tentunya aku sendiri yang harus mengobatinya. Tidak ada satupun yang dapat menolongku, apalagi sebelum kau datang menempati rumah barumu. Aku sendiri, semua hal harus kulakukan sendiri.”
“ Sejak kapan kau sudah hidup sendiri?”
“ Tidak begitu lama. Setelah nenekku meninggal, aku sudah mulai hidup mandiri. Demi mencukupi hidupku, aku berhenti dari sekolah dan lebih memilih bekerja. Aku tidak punya tempat lain dan tidak mau merepotkan orang lain.” Ia menunduk. Menekuk kedua lututnya dan memeluknya. “ Kau berhenti sekolah? Terlalu muda untuk berhenti mencari ilmu. Bukankah umurmu masih enam belas tahun?”
“ Darimana kau tahu? Aku tidak pernah menceritakan hal ini pada orang lain.”
“ Hanya dugaanku saja. Ternyata memang benar, kau lebih muda dua tahun dariku. Kenapa kau tidak kembali saja pada keluargamu yang lain? Disana kau pasti bisa mendapatkan kecukupan dan tidak perlu berhenti sekolah. Dan mungkin kau tidak akan sekurus ini jika bersama mereka.”
“ Aku tidak ingat. Aku tidak tahu kalau aku punya keluarga selain kakek dan nenek. Aku juga tidak pernah melihat wajah orang tuaku seperti apa. Mereka hanya mengatakan padaku kalau orang tuaku sudah meninggal ketika aku bayi. Namun––tidak ada satu foto yang kudapatkan darinya. Akan tetapi, tanpa mereka pun aku sudah hidup tenang bersama kakek dan nenek.”
Ini begitu ganjil. Aria sama sekali tidak mengetahui rupa wajah kedua orang tuanya. Ia cukup tegar walau sekarang sudah ditinggalkan kakek dan neneknya. Dalam usia yang sangat belia ia bisa hidup mandiri dan mencari penghasilan untuk dirinya sendiri. Wanita yang tidak mudah putus asa pikirku. Sebelum aku bersama Bibi Rosetta datang ke daerah ini, ia sudah berani tinggal dalam rumah putih bertingkat seorang diri. Jujur, kesepian itu rasanya sangat tidak enak. Manusia bukanlah mahluk Tuhan yang diciptakan seorang diri. Setiap manusia pasti membutuhkan bantuan dari manusia yang lain. Jarang sekali aku melihatnya mengeluh hanya karena hal ini. Ia terus tersenyum walau sebenarnya dapat kusadari bahwa senyumannya itu untuk menutupi rasa sepi dan sedihnya. Tubuhnya yang mungil sangat bertolak belakang dengan sifatnya yang dewasa. Mungkin ia lebih dewasa dariku. Sering sekali aku melukainya dan mengacuhkannya. Di rumah, rumah sakit, bahkan di sekolah sekali pun. “ Aku begitu simpati padamu.”
“ Tidak perlu. Aku tak butuh rasa kasihan dari orang lain. Sekarang aku sangat bahagia, Tuhan begitu penyayang. Ia memberikan tetangga yang begitu baik seperti bibi Rosetta dan Ron. Aku tidak sebatang kara sekarang. Kalian berdua sudah seperti keluargaku.”
Aku tersenyum akan perkataannya, begitu juga dengan dirinya. Ia sangat manis jika tersenyum. Parasnya begitu cantik dan menggoda. Kami pun berdiri untuk melanjutkan perjalanan. Ia berjalan sedikit tertatih akibat tersandung. Tangannya memegang lenganku demi menahan keseimbangan. Tak tega melihatnya, tanganku bergerak mengambil tangannya dan menggenggamnya. Ucapan terima kasih terlontar dari mulutnya. Aku hanya mengangguk menanggapinya.
Tanpa sadar, sebenarnya ada yang terus mengikutimu dari awal.
Aku terdiam. Lagi-lagi perasaan ini muncul di saat yang tak tepat. Ketakutan, ketakutan yang mencekam itu datang. Angin berhembus begitu kuat. Ini sangat mengerikan. Cahaya matahari tiada menerangi dan berganti posisi dengan gumpalan awan. Langit terlihat muram. Suasana berubah sepi tanpa kicauan burung. Tangan yang sekarang kugenggam bergetar hebat. Aria begitu ketakutan dan mempererat genggamannya. Tenggorokannya seperti tersekat, sangat susah untuk mengucapkan ucapan takutnya padaku. Tenanglah, hanya kata-kata itu yang dapat kuberikan padanya. Sebuah genggaman berubah menjadi sebuah pelukan. Petir hebat menyambar dan kilat pun bergemuruh. Aku berusaha membawanya lari dari hutan ini––namun, semuanya terlambat. Kami diperlihatkan oleh pemandangan buruk. Tiga serigala hitam sudah mengepung kami. Aria menangis dalam pelukanku. Aku cemas dan takut. Tidak ada yang dapat menolong kami sekarang. Apakah ini perbuatan Azura lagi? Aku tak tahu.
Mereka terlihat sangat kelaparan, seperti ingin melahap kami dengan segera. Liurnya menetes dari sela-sela taringnya. Aku membelalak, teringat akan masa lalu yang pernah menimpaku. Aku tak ingin mengulang peristiwa buruk seperti ini untuk kedua kalinya. Gigi taring yang menancap membuat luka yang masih membekas di lenganku hingga sekarang. Kekuatanku tak dapat keluar secara terencana. Itu hanya spontanitas saja. Sekarang. Apa yang harus aku lakukan?
****